Pencarian

Memuat...

Minggu, 31 Mei 2015

Banned FIFA Untuk Indonesia, Imbas Pertarungan Politik

Gegap gempita suara penonton yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno yang pernah terjadi seperti saat Indonesia berhadapan dengan Malaysia di final Piala AFF tahun 2010 saat ini tak bisa lagi dirasakan dan disaksikan, penampilan memukau timnas U-19 saat menjuarai piala AFF saat ini belum bisa dilanjutkan oleh generasi muda penerusnya, penampilan heroik seperti saat timnas U-19 mengalah Korea Selatan di Kualifikasi penyisihan grup Piala Asia saat ini hingga sampai batas yang tidak diketahui tak bisa disaksikan lagi oleh masyarakat pecinta Sepakbola di Indonesia. Semua itu terjadi karena sejak tanggal 31 Mei 2015 Indonesia resmi diBanned atau disuspend oleh FIFA dengan alasan ada intervensi pemerintah terhadap PSSI.

Terjadinya suspensi dari FIFA ini tidak lepas efek pertarungan politik yang tengah memanas di Indonesia, saat PSSI yang memang tengah dikuasai oleh suatu kelompok dan ingin direbut secara frontal oleh kelompok lainnya yang kebetulan tengah berkuasa. Alasan-alasan demi kebaikan sepakbola Indonesia dari kedua belah pihak baik itu dari PSSI maupun dari Pemerintah dalam hal ini adalah Kemenpora menjadi bias dan meragukan, jika melihat langkah-langkah yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Walaupun prestasi sepakbola Indonesia tidak terlalu menonjol, namun harus diakui bahwa Sepakbola merupakan olahraga yang paling populer di negeri ini, sehingga memiliki potensi baik secara ekonomi bahkan politik sehingga federasinya menjadi rebutan berbagai kelompok politik, bahkan beberapa tahun terakhir ini sepakbola Indonesiapun mulai banyak diminati oleh sponsor, stasiun tv pun berebut mendapatkan hak siar, padahal dulu-dulu banyak stasiun tv yang enggan menyiarkan secara langsung persepakbolaan nasional, sekarang sebuah pertandingan ujicoba atau friendly matchpun disiarkan oleh beberapa stasiun tv. Nah di sinilah mulai terasa semakin panasnya perebutan untuk menguasai lembaga persepakbolaan Indonesia tersebut, dan itu sempat terjadi sebelumnya dengan adanya dualisme kompetisi yaitu ISL dan IPL yang keduanya berada dibawah kepentingan kelompok tertentu.

Saat inipun terjadi lagi meski dengan nuansa yang berbeda, dengan memanfaat kelemahan kelompok yang tengah menguasai lembaga persepakbolaan nasional dengan dugaan adanya mafia di tubuh PSSI tersebut, kelompok lainnya dalam hal ini Kemenpora akhirnya melakukan pembekuan terhadap PSSI. Nah pembekuan tethadap PSSI inilah yang akhirnya membuat FIFA menjatuhkan sangsi berupa banned terhadap sepakbola Indonesia dengan alasan ada intervensi dari Pemerintah. Yang jadi korban tentunya adalah para pelaku sepakbola seperti pemain, pelatih dan lain-lainnya, juga masyarakat pecinta sepakbola nasional yang ingin menyaksikan timnasnya bertanding dengan negara lain.

Semestinya pemerintah, dalam hal ini Menpora bisa lebih bijak dalam menyikapi permasalahannya dengan PSSI, jika memang ada Mafia di PSSI maka bisa menggunakan perangkat hukum dan mengadili orang-orang yang terlibat dalam mafia tersebut. Maka masyarakatpun akan menilai ada kesungguhan dari Menpora yang bermaksud ingin memperbaiki sepakbola nasional, tapi dengan melakukan tindakan yang emosional dan egois dengan membekukan PSSI justru akan memunculkan dugaan-dugaan berupa pengambilalihan secara paksa oleh kelompok yang bersebrangan dengan penguasa PSSI saat ini.

Namun sanksi FIFA telah terjadi, kini kita sebagai masyarakat pecinta sepakbola tinggal menanti apa tindakan dan solusi yang akan dilakukan terutama oleh kemenpora sebagai pertanggungjawaban atas langkah-langkah yang telah dilakukannya, benarkah mereka akan sungguh-sungguh memperbaiki persepakbolaan nasional setelah berani mengambil resiko dibanned oleh FIFA? Hal yang patut ditunggu, sambil berharap sanksi dari FIFA tidak berkepanjangan.